Tuesday, February 03, 2015

,

5 DASAR UNTUK MENJADI PENULIS BERKUALITAS

Melihat keadaan saat ini, sepertinya makin banyak orang yang beralih ke dunia sastra dan menjadikan kata "penulis" sebagai profesinya. Gue rasa ini bukti kalo orang Indonesia udah banyak yang berpikiran terbuka dan merasa haus dalam berkarya. Keadaan ini didukung juga dengan perubahan pola pikir perusahaan penerbit di Indonesia.

Kalo kita inget-inget lagi mereka di era 90-an, menerbitkan karya saja sulitnya bukan main. Hal itu karena perusahaan penerbit (yang tentu saja mengutamakan laba penjualan) lebih percaya diri dengan memasarkan produk-produk terjemahan. Sedangkan karya lokal kurang begitu dilirik karena dianggap kurang peminat.

Nah, makanya di era 90-an, penulis yang biasanya berhasil menerbitkan karyanya merupakan penulis kelas berat yang isinya kental sekali nilai-nilai sastranya. Kebetulan juga selera masyarakat waktu itu lebih ke arah yang berat-berat. Tentu keadaan ini udah berubah sekarang. Terlihat dengan makin banyaknya novel-novel lokal dalam berbagai genre tersaji dengan gaya pop beredar di pasaran. Perlahan-lahan, perusahaan penerbit mulai menghargai karya dalam negeri, dan bersama dengan itu juga semakin banyak penulis-penulis baru yang bermunculan. Termasuk gue, yang saat ini lagi berusaha buat nyelesein karya pertama gue.


Oke, asumsikan kalo sekarang menjadi penulis itu bukan lagi menjadi pilihan yang sulit. Memang dalam prosesnya tetap butuh pengorbanan yang luar biasa, paling utama adalah pengorbanan waktu dan tenaga. Karena menulis novel bukanlah perkara mudah seperti blogging yang satu atau dua jam saja sudah bisa menyelesaikan beberapa artikel. Novel setidaknya butuh waktu dua minggu untuk selesai (bagi yang udah sangat terbiasa menulis novel dan biasanya memang para profesional yang menulis nggak lagi karena sekedar hobi, tapi juga tuntutan deadline). Intinya, menjadi penulis itu mudah karena sekarang sudah banyak penerbit yang menghargai karya lokal, selain itu juga udah banyak banget perusahaan indie publishing yang bersedia menerbitkan karya kita seperti apa pun isinya. Tapi, nggak semua karya dan penulis yang berhasil menerbitkan karya merupakan penulis yang berkualitas.

Kualitas seorang penulis tentu saja dilihat dari karyanya. Bagus atau tidak bagus. Tapi, hasil karya yang berkualitas sangat jarang diperoleh oleh penulis yang tidak memperhatikan hal-hal sepele atau kebiasaan yang sebenarnya sangat wajib dimiliki oleh seorang penulis. Apa aja sih? Nih, gue berhasil ngerangkum 5 Dasar untuk Menjadi Penulis Berkualitas.

1. Budayakan Membaca
Ada loh penulis yang malas baca. Ada. Tapi, bukan sesuatu yang pantas untuk ditiru. Membaca adalah hidangan yang pas untuk mengembangkan kemampuan otak kita. Semakin banyak yang kita baca, semakin banyak yang kita pelajari, semakin luas pula wawasan yang kita miliki. Wawasan akan meningkatkan kecerdasan otak, salah satu fungsi kecerdasan adalah menghasilkan kata-kata yang menarik ketika kita menulis. Nah, jadi, penulis yang memiliki tulisan berkualitas, enak dibaca, dan dinikmati adalah penulis yang cerdas. Tunggu apalagi? Ayo luangkan waktumu untuk membaca, jangan cuma menulis dan menulis.

Tapi, Bro! Gue nggak punya duit buat beli buku!
Ah, elah, nggak ada yang nyuruh mesti beli buku kok. Bacaan masih bisa kita dapatkan dengan cara baca langsung di toko buku (dengan resiko betis varises, tidak disarankan) atau pinjem sama teman. Hei, lagipula bacaan itu bukan melulu berupa buku kan? Membaca artikel-artikel seperti ini juga menambah wawasan.

Bagi seorang penulis, membaca buku adalah hal wajib. Jadi, seenggaknya sisihkan dong sebagian uang buat beli buku. Terlalu banyak pengeluaran buat kebutuhan hidup lain? Ya udah, be active deh ikutan giveaways, siapa tahu dapat buku gratisan. Lumayan kan? Hehe. Intinya, kalo mau jadi penulis yang berkualitas, udah mutlak hukumnya untuk suka membaca.

2. Manajemen Waktu
Kalo yang ini kaitannya ke proses nih. Penulis yang berkualitas biasanya ngagk peduli sesibuk apa pun kesehariannya, selalu aja bisa menyediakan waktu buat nulis. Nggak usah lama-lama, satu jam sehari itu udah lumayan. Yang terpenting jangan sampai sehari pun nggak menulis apa-apa. Tentunya menulis yang terlalu simpel seperti update status sosial media tidak termasuk. Aturlah keseharian kita dan gunakan waktu seefektif mungkin. Kalo pada dasarnya kita memang hidup urakan dan nggak teratur, yuk mulai dibiasakan hidup teratur.

Tapi, Bro! Gue orangnya moody, jadi susah nulis di waktu-waktu yang udah ditentukan sebelumnya!
Take it easy, Brader. Gue pun orangnya moody. Tapi, moody bisa diakalin dengan berbagai cara, dan pastinya bisa kita kalahin dengan tekad yang kuat. Nanti deh, kapan-kapan gue kasih beberapa tips asyik buat mengelola sifat moody kita menjadi senjata paling asyik dalam menulis.

3. Sering Bersosialisasi dan Berdiskusi
Siapa bilang penulis adalah kerjaan yang menuntut kita harus forever alone? Justru, menjadi penulis, dituntut untuk selalu bersosialisasi dengan banyak orang. Penulis butuh banyak teman, karena dengan banyaknya teman ada banyak pemikiran yang bisa dibagi dan bertukar, akhirnya? Sama kayak membaca, wawasan kita juga akan semakin bertambah.

Sosialisasi juga melatih kita untuk mengenali karakter orang lain. Dan kita bakal dapat banyak keuntungan dari latihan mengenali karakter orang-orang di sekitar kita. Misalnya, dalam tulisan kita, kita bisa membuat karakterisasi tokoh yang manusiawi dan logis. Secara diri pribadi, mengenali karakter orang lain juga bisa membantu kita berintrospeksi. Kita jadi tahu apa kekurangan dan kelebihan orang lain, sehingga kita bisa bercermin dan meningkatkan kualitas diri kita lebih dari yang sekarang.

Tapi, Bro! Gue orangnya pemalu, introvert. Gue bukan orang yang pandai bergaul!
Sabar, Bro, sabar! Gue juga dulunya introvert. Tapi , berkat kemauan buat berubah, akhir-akhir ini gue jadi lebih sering ngumpul bareng sama temen-temen komunitas dunia maya, ngobrolin soal kepenulisan dan lain sebagainya. Intinya, ketemu dengan banyak orang, baik penulis pemula maupun profesional. Awalnya malu-malu dan banyak diem nggak masalah. Percaya deh, makin sering dilakuin, semakin terbiasa diri kita buat bergaul. Masih mau bertahan sendirian? Hehe.

4. Olahraga Mental
Sure thing is, nggak ada yang namanya sukses tanpa pernah dihujat. Nggak ada yang namanya menjadi seorang penulis berkualitas tanpa pernah merasakan pahit-pahitnya dikritik habis-habisan. Sebab dari kritik (entah itu membangun atau menjatuhkan) tersimpan potensi yang luar biasa, yang mana kalo kita kelola dengan pikiran kita yang selalu tenang, sabar, dan positif, justru akan menjadi bahan bakar untuk menghasilkan karya lainnya yang lebih baik. Seperti karet yang kita tarik hingga merenggang, sesungguhnya menyimpan energi potensial yang lebih besar ketimbang saat sebelum direnggangkan. (Nyontek dari tayangan Entertain Your Brain di Discovery Channel). Intinya, mental yang hebat itu akan membuat kamu nggak mudah menyerah. Selalu berusaha untuk jadi lebih dan lebih lagi.

Pernah kan nulis novel, udah jadi, begitu sama temen ditanyain: "Mana coba liat dong gue tulisan lu", kamu malah jawab dengan: "Jangan deh, malu." Itu artinya, kalian masih kurang mental. Jangan berharap jadi penulis berkualitas kalo kalian nggak punya mental. Mungkin bisa saja kalian tetap menerbitkan karya, tapi lebih besar peluang kalian untuk tiba-tiba berhenti di tengah jalan apabila menerima cecaran kritik pedas dan tajam.

Terus gimana dong kalo pada dasarnya kita bermental lemah? Dilatih dengan cara berolahraga mental. Coba deh gabung ke komunitas kepenulisan, terus share salah satu karya kalian. Nggak perlu yang dibuat dengan niat duluan, coba aja bikin cerpen iseng, suapaya kamu bisa lebih nerima lagi seandainya karya "asal"-mu itu kena kritikan pedas. Lakukan beberapa kali, sampai kamu terbiasa, dan mulai deh tunjukkin cerita yang kamu buat menggunakan segala effort kamu.

Tentunya maksud gue melatih mental ini bukan sekedar tahan dikritik, tapi juga melatih untuk selalu ber-positive thinking. Setajam apa pun sebuah komentar, sepahit apa pun rasa yang kita terima, selalu ada nilai yang bisa kita petik di dalamnya dan dijadikan pembelajaran. So, mental yang kuat bukan cuma soal sabar menerima kritik, tapi juga menjadikannya bernilai positif dan berfungsi sebagai bahan bakar semangatmu.

5. Bukan Cuma Praktek
Ada banyak penulis amatir hingga profesional yang sepertinya mengedepankan praktek dan praktek tanpa terlalu peduli sama hal-hal yang bersifat teknis. Maksudnya, teori tentang hal-hal teknis. Terlihat dengan banyaknya penulis yang sebetulnya udah profesional, tapi tulisannya mengandung banyak sekali typo atau nggak sesuai dengan kaidah-kaidah kepenulisan yang baik dan benar. Seolah dokumen EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) sama pemerintah itu sekedar angin lalu aja. Biasanya penulis tipe ini bakal berkelit begini: "Nggak apa-apa kesalahan EYD minor karena nanti sama editor akan diperbaiki."

Nah, kenyataannya masih banyak kok editor yang nggak mentingin kesalahan EYD ini. Imbasnya? Pembaca yang terganggu karena membeli novel yang isinya penuh dengan kesalahan EYD. Oh ya, tentunya EYD ini mengatur teknis penulisan, bukan masalah baku atau tidak baku. Jadi, kalau kamu termasuk penulis dengan gaya tulisan tidak baku, pertahankan, hanya saja cara penulisannya tetap disesuaikan dengan aturan yang berlaku. Kita orang Indonesia jadi harus menjunjung tinggi Bahasa Indonesia. Bukan begitu? :)

Tapi, bukan berarti gue nyuruh penulis lokal selalu menulis menggunakan Bahasa Indonesia. Nggak. Kalian juga bisa menulis pakai bahasa Inggris, tapi tetap pelajari juga grammar-nya. Bukan begitu? Yuk, diseimbangkan antara teori dan praktek. Lagipula dari pengalaman gue nulis cerpen terus di-share ke komunitas, rata-rata yang mengkritik isinya membahas soal kesalahan teknis. Sangat jarang yang mengomentari masalah isi cerita.

Nah, Creative, gue rasa segitu aja yang mau gue sampein pada postingan kali ini. Sekedar starter untuk menciptakan nuansa baru di Creative Talks Blog ini. Untuk segala kesalahan dan kekurangannya, gue mohon maaf, karena semua yang gue tulis di sini berasal dari pemahaman dan pengalaman gue sendiri, yang mana gue sendiri masih perlu banyak belajar lagi. Punya tambahan pemikiran lain? Saran-saran lain? Silakan tulis di kolom komentar. Sampai ketemu di postingan gue selanjutnya! Hehe.

Keep on writing, Guys!

Thursday, January 01, 2015

,

MY 2014 IN REVIEW


Halo lagi, Sobat Creative di mana pun kalian berada. Nggak kerasa udah sekian lama gue menelantarkan blog tercinta ini. Dashboard-nya sampe udah bulukan bin jamuran. Belum lagi penuh sama sarang laba-laba, terus juga ... please deh ngaku siapa nyoret-nyoret kolom komentar blog gue dengan ratusan komentar berisikan ucapan terima kasih kepada Mbah ini, kepada Mbah itu, gegara udah ngebantu mereka menang TOGEL. PLEASE, GUE BUKAN MBAH KALIAN, sampaikan saja terima kasihmu itu kepada Mbah yang bersangkutan, jangan sampe salah alamat. Kalo belum baca artikel gue soal TOGEL, bisa klik aja linknya di sini.

Tuesday, August 19, 2014

,

MENGISI KEMERDEKAAN INDONESIA ALA BLOGGER


Guys, kemarin tepatnya tanggal 17 Agustus 2014, kita--rakyat Indonesia--memperingati (inget yak, memperingati, bukan merayakan!) Hari Kemerdekaan negara yang ke-69. Terus kenapah gitu?

Saturday, June 21, 2014

5 FILM SERI YANG PALING GUE TUNGGU KELANJUTANNYA


Biasanya kalo mendekati akhir bulan, gue bakalan males banget ngupdate blog. Nah, berhubung gue nggak mau terus-terusan terjebak sama rasa malas, gue harus lakuin sesuatu buat ngebangkitin mood gue nulis. Salah satu caranya dengan bikin postingan yang lebih santai dan cenderung nggak penting-penting amat kayak begini. Hahahaha.

Friday, September 13, 2013

BOOK REVIEW | DEAD SMOKERS CLUB


Halo, lagi kawan! Setelah sekian lama nggak nulis artikel baru di sini, akhirnya gue nemu juga waktu yang pas buat mulai berkutat lagi sama blog. Maklum, utang nulis gue banyaaaak banget akhir-akhir ini, udah gitu moodnya lagi naik turun, jadinya butuh cukup banyak waktu buat nyelesein semuanya satu per satu.

Wednesday, July 31, 2013

, , ,

BOOK REVIEW | DREADFULLY DEADLY HISTORY

Pertama-tama ampuni gue yang baru sekarang sempet nulis review buku hasil kiriman @gagasmedia gegara gue beneran susah nyari waktu, ditambah koneksi internet yang kian menyesatkan. Bikin napas gue seringkali jadi ga beraturan. Belum lagi banyak proyek in real-life yang bikin gue ngos-ngosan berpacu dengan deadline. Iya, sebetulnya gue semi-deadliner sih. Seperti kali ini, gue maksain nge-review tepat di hari terakhir di bulan Juli 2013 ini. Ada buku apa sih? Yuk disimak!

DREADFULLY DEADLY HISTORY - Mungkin buku ini bisa jadi temen yang baik di mana pun. baik di dalem kamar, ruang kerja, meja makan, pas nongkrong di dalem kafe, atau pun di dalem toilet. Ups, sorry yang terakhir mungkin cuma kebiasaan gue aja sih yang suka baca buku sambil nongkrong di WC. Hehehehe.

Tuesday, June 18, 2013

,

CARA JITU MENEBAK NOMOR TOGEL


Halo, Guys! Akhirnya gue bisa ngupdate blog lagi setelah sekian lama kena writer's block. Kenapa kok gue bisa kena writer's block? Soalnya, mood gue kemarin-kemarin beneran kacau banget gegara ada banyak masalah. Kebetulan juga gue lagi fokus sama proyek novel yang gue targetin selesai akhir bulan ini.

MY OTHER BLOG

My other blog


More reviews >>

WRITING

BLOGGING

GRAPHIC DESIGN

CREATIVE METER