BLOG PLAGIATOR DAN CARA MENYIKAPINYA

Seperti apa sih plagiator blog? Gimana sih cara kita menyikapinya? Gimana dengan hukum-hukum yang berlaku di Indonesia? Apa itu cukup untuk melindungi para blogger dari ancaman postingannya ter-plagiat orang lain? Gimana dengan UU HAKI? Gue bakal bahas semuanya di sini. Tentunya berdasarkan analisa berbagai sumber dan juga pemahaman dari diri Gue sendiri. So, jangan men-judge yang nggak-nggak dulu yah.
First, kepada para korban plagiat yang lagi teriak-teriak, Gue cuma mau bilang kalo hal itu percuma aja. Lebih baik kalian ngga usah berkoar-koar dulu karena bakal mempermalukan diri kalian sendiri. Nah, sebelum Gue bahas lebih jauh, ada beberapa hal yang tentunya harus kalian tahu and pahamin lebih dulu. Misalnya aja sebelum kalian bikin blog, khususnya di Blogger.com atau platform-platform gratisan lainnya, pasti bakalan nemu yang namanya TOS (Terms of Service) yang sebetulnya selalu dicantumin di bagian paling bawah form registrasi. Sayangnya kebanyakan orang ngga peduli, and langsung aja nge-klik register. Coba deh kalian lihat penggalan kalimat dari TOS milik Blogger.com berikut ini :
You will be responsible for all activities occurring under your username and for keeping your password secure.
And ini juga :
Google disclaims all responsibility and liability for the availability, timeliness, security or reliability of the Service or any other client software.
Dan dipertegas lagi sama Google :
You agree that you are responsible for your own use of the Service, for any posts you make, and for any consequences thereof.
Nah, terus what the kamsud? Dari sini kita udah bisa langsung tau, kalo kita di-plagiat sama orang, PERCUMA meminta tolong Google/ Blogger untuk menindak langsung sang plagiator. Coz, semua udah dijelasin kan di TOS? Semua isi postingan dan lain-lain oleh kita menjadi tanggung jawab kita, Google ngga bertanggung jawab atas segala apapun yang terjadi terhadap postingan kita. Nah, diplagiat sama orang tentu adalah salah satu contoh yang bisa terjadi pada siapa aja di dunia perblogan. So, Google lepas tangan tentang hal ini.
Lalu gimana dengan hak cipta? Kita sebagai penulis konten sudah seharusnya mendapatkan perlindungan hukum. Oke, sekarang bicara tentang hukum. Memang ada undang-undang di Indonesia yang ngebahas masalah HAKI, misalnya aja di UU No. 19 Tahun 2002 tentang HAKI. Udah pernah baca isinya secara lengkap?? Kalo belum silakan klik link tadi buat download dokumennya. Nah, Gue bakal bahas dulu tentang apa-apa aja yang dimaksud Hak Cipta berdasarkan UU tersebut :
Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Berdasar pernyataan itu, okelah, content yang kita tulis pada blog bisa juga merupakan salah satunya. Coba liat lagi di sini. Apa yang dimaksud dengan ciptaan :
Ciptaan adalah hasil setiap karya Pencipta yang menunjukkan keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni, atau sastra.
Melihat pengertian di atas, udah tentu bagi penulis blog yang isinya cuma for fun, curhat-curhat pribadi, dan hal-hal lainnya yang setara dengan itu nggak bisa dimasukkan ke dalam ciptaan, dan ngga ada perlindungan hukum akan hal tersebut. Kalo yang diplagiat berupa informasi yang penting bagi pendidikan, seni ataupun sastra, semua itu bakal dilindungi. Tapi coba lihat embel-embel di awal kalimat, "karya Pencipta yang menunjukkan keasliannya". Yap, sebagai pencipta kita juga harus punya bukti dulu bahwa hasil itu betul-betul ciptaan kita. Sekarang baca lagi penggalan tentang syarat seseorang bisa dikatakan sebagai Pencipta :
Yang dianggap sebagai Pencipta adalah:
a. orang yang namanya terdaftar dalam Daftar Umum Ciptaan pada Direktorat Jenderal; atau
b. orang yang namanya disebut dalam Ciptaan atau diumumkan sebagai Pencipta pada suatu Ciptaan.
Nah, pada poin B udah dijelasin kalo Pencipta itu harus dapet pangakuan dulu dari orang lain tentang hasil karyanya. Tapi kalo ngeliat kondisi yang ada di negara kita ini, hanya dengan poin B itu nggak bakalan berhasil. Kebanyakan dua syarat di atas diberlakukan untuk suatu karya yang sifatnya bisa disentuh. Buku misalnya. Tapi kalo blog? Medianya digital. Tentu bakalan beda hukumnya. Hukum yang berlaku pada media ini adalah UU ITE tentang CyberCrime. Dan kita semua tahu apa yang terkandung di dalamnya ngga bakalan bisa dilakukan 100% tepat sesuai aturan yang tertulis di sana.
Oke, sebaiknya Gue ngga nerusin penjelasan dari UU HAKI di atas karena udah jelas target karya yang diperjuangkan di dalam undang-undang itu sifatnya bisa disentuh, bukan lewat media internet, dan pastinya mendapat pengakuan dari orang-orang. Di buku yang diterbitkan, terdapat nama penulis, itu bentuk pengakuan karya loh. Ditambah adanya copyright di dalamnya, yang menyatakan si penulis memiliki sertifikat kepemilikan karya yang nantinya bakal mempermudah urusan di pengadilan bila suatu saat melaporkan seseorang dengan alasan plagiat. Buku adalah jalur publikasi melalui media konvensional dan tentunya sesuai dengan hukum yang ada di negara kita.
So, buat para Blogger, gimana dong kalo ngga mau diplagiat? Sebetulnya selalu ada pilihan. Google menyatakan kebijakannya untuk tidak bertanggung jawab atas isi konten dan apa yang terjadi dengan konten kita. Artinya, seharusnya kita sudah siap dengan resiko plagiarisme. Di dalam hukum dunia cyber, sesuatu yang disebarluaskan melalui jaringan milik publik (bukan private) sudah pasti sifatnya publik dan bebas untuk disebarluaskan oleh siapa saja. Kecuali situs atau orang yang bersangkutan memiliki sertifikat khusus yang menyatakan keaslian domain yang dimilikinya. Tentu yang diutamakan adalah orang atau badan usaha yang punya domain berbayar yang bersifat resmi. Bukan yang gratisan seperti Blogger dan Wordpress. Kalo kalian nggak mau karyanya diplagiat ada beberapa pilihan :
- Jangan menguploadnya ke situs pribadi yang berjalan di jaringan publik. Kalian bisa setting blog kalian agar tidak dapat diakses oleh orang-orang yang tidak berkepentingan. Jadinya toh hanya jadi konsumsi orang-orang yang kalian percaya saja. Lebih aman kan? Terapkan sistem login atau keanggotaan untuk dapat mengakses blog anda.
- Jangan menguploadnya ke internet sama sekali. Pendam saja di hardisk komputer kalian, dan coba terbitkan lewat media konvensional. Cara seperti ini lebih mudah mendapatkan pengakuan.
- Mengurangi resiko. Oke, plagiarisme ngga bisa kita hilangkan, tapi masih bisa dicegah. Ingat pencegahan di dunia maya itu ngga bisa 100% loh. Pasti selalu aja ada celah bagi orang lain untuk melakukannya.
Misalnya aja Gue, Gue juga punya pengalaman di-plagiat sama orang-orang gak bertanggung jawab. Awalnya memang sakit hati. Tapi, kalo dipikir-pikir, ya mau bagaimana lagi. Semua itu sudah resiko. Makanya bijaksanalah sebelum menulis atau berbagi sesuatu. Kalo emang niat untuk di-share, kenapa juga mesti ribut kalo di-copy orang? Ikhlaskan saja, kan niat awal buat sharing, bukan buat nyari nama biar terkenal.
Kesimpulan yang bisa Gue petik begini :
- Google ngga pernah peduli dengan konten dan bagaimana nasib dari konten di blog kita, udah ada di TOS mereka.
- Pemerintah menyusun UU No. 19 Tahun 2002 tentang HAKI menitikberatkan pada karya-karya yang bersifat konvensional, lewat prosedur yang berlaku di negara ini, dan bukan yang keberadaannya maya (dunia cyber). Untuk beberapa kasus di dunia cyber, silakan baca hukumnya di UU ITE tentang Cyber Crime.
- Walau disebutkan di dalam UU kalo apa yang kita buat otomatis merupakan hak kita dalam memiliki hak cipta, tetap saja, kalo ingin meluruskan permasalahan lewat jalur hukum kita harus punya bukti/sertifikat kepemilikan Hak Cipta.
- Menuntut seseorang itu memerlukan biaya. Ingat, tidak ada yang gratis di dunia ini dalam hal keadilan.
- Menyebarkan suatu informasi lewat jaringan publik memang nggak aman, dan Gue rasa kalian semua udah pada tau ini. Aktifkan mode private kalo pengen aman atau ngga usah disebar sama sekali selain lewat media konvensional dan sesuai prosedur yang diakui negara.
- Beli sertifikat DMCA juga oke sih. Ini bisa membantu kita dalam hal penunjukkan bukti kepemilikan blog dan konten yang kita buat. Tapi gak beda jauh kok sama daftar ke Direktorat Jenderal mengenai Hak Cipta.
- Pakailah domain dan hosting kalian sendiri, bukan yang menumpang pada suatu website lain.
- Perketat pengamanan pada konten. Misalnya dengan menonaktifkan fungsi klik kanan. Tapi untuk browser Mozilla 7.0 ke atas, cara begini mudah sekali dipatahkan. Karena ada metode untuk menonaktifkan Javascript yang ada di dalam konten.
- Kasih peringatan di dalam blog kalo dilarang keras buat copy-copy isinya. Pasang aja semacem tulisan "konten dilindungi undang-undang". Yang cupu pasti takut, tapi yang nekad tetep aja sih ngga ngaruh. Hehehe. Seenggaknya kan ada peringatan.
- Kembali lagi pahamin maksud dan tujuan kalian ngeblog. Apakah untuk sharing? Atau untuk narsis? Biasanya yang terlalu memperpanjang masalah karya di-plagiat itu karena kepengen narsis. Biasanya loh yah. Kalo cuma niat nge-share kan mau di-copy sama orang juga bukan masalah besar. Kecuali kalo mata pencaharian kita memang sebagai Blogger (maksudnya, mendapatkan penghasilan lewat blog).
Nggak membantu kalian yah? Yah, memang tujuan Gue memposting ini bukan untuk membantu kalian yang lagi galau gara-gara karyanya di plagiat orang. Gue cuma mau mengingatkan, kalo sekejam inilah dunia cyber. Dan yah, Gue udah kasih beberapa masukkan untuk menyikapi fenomena ini. Jadi yah jangan buang-buang energi dengan cara berteriak-teriak mengadu kesana-kemari. Apalagi kalo yang mengcopy itu situs komersil yang udah diakui, bisa-bisa dibawa ke pengadilan pun mereka yang bakal menang karena punya sertifikat Hak Cipta akan situs yang dikelolanya.
Yah, begitulah dunia cyber. Ngga ada negara yang bisa menetapkan hukum di dalamnya. Karena dunia cyber adalah negara tersendiri, di mana di dalamnya terdapat berjuta-juta kebebasan. Tinggal bagaimana kita menyikapinya, dan sebijaksana apa kita dalam menggunakannya. So, buat para korban plagiarisme, ikhlaslah. Coz, ada yang Maha Tahu kok, selanjutnya kita berdoa aja dan serahkan semuanya pada beliau. Keep blogging, Kawan! SEMANGAT!
UPDATE
Yah, begitulah dunia cyber. Ngga ada negara yang bisa menetapkan hukum di dalamnya. Karena dunia cyber adalah negara tersendiri, di mana di dalamnya terdapat berjuta-juta kebebasan. Tinggal bagaimana kita menyikapinya, dan sebijaksana apa kita dalam menggunakannya. So, buat para korban plagiarisme, ikhlaslah. Coz, ada yang Maha Tahu kok, selanjutnya kita berdoa aja dan serahkan semuanya pada beliau. Keep blogging, Kawan! SEMANGAT!
UPDATE
FYI : Blog Gue nggak ngebahas masalah gimana cara memerangi Plagiator. Tapi blog Gue lebih mengarah pada pembentukan sikap. Di sini yg Gue bahas bukan berarti Gue ngedukung Plagiator, tapi bagaimana sikap kita yang seharusnya apabila hal itu terjadi...
"Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelakunya tapi juga karena ada kesempatan", lewat pepatah itulah, Gue mau ajak introspeksi. Janganlah terus menyalahkan orang lain yang jelas2 kita tahu perbuatannya salah. Tapi cobalah dengan menyadari kekurangan di diri kita... Seandainya kita peduli terhadap keamanan dan memperkecil kesempatan yang ada, tentu plagiarism dapat dicegah...
Ibarat maling sendal, yang sering hilang adalah sendal yang ada di depan rumah atau tempat terbuka.. Coba taruh sendalnya di rak penyimpanan di dalam rumah, tentu resiko hilang kan semakin kecil...
Makanya lewat postingan ini, Gue berusaha ngasi opsi untuk membangun rak sendal, eh, bukan, tapi metode pencegahan yang bisa dilakuin. Harap dipandang secara bijak dan jangan menyimpulkan dengan cara yang ngasal.
Jangan sampai Anda menganggap plagiat itu hal yang WAJAR di dunia cyber, justru ini yang bahaya.
ReplyDeleteAnda boleh menganggap korban plagiat itu yang salah (karena mempublish karyanya bla bla bla), tapi jangan sampai menanggap pelaku plagiat tidak salah, karena terlepas dari korban kecelakaan terluka atau tidak karena tidak memakai helm, tetep yang salah adalah yang menabrak (inget yg komen di fb).
Saya yakin yang dipermasalahkan oleh korban plagiat bukan kerugian atas dijiplaknya suatu karya, tapi tindakan plagiatornya.
Dan terlepas dari hukum yg berlaku, plagiat tetep melanggar kode etik. Say no to plagiat Cheers
@Ramy : Dan di bagian mana Gue bilang kalo Gue setuju sama Plagiator? :Cheers:
ReplyDelete@glen : itulah yg kurang dari postingan ini menurut saya, coba ditambahkan sedikit imbauan untuk tidak plagiat. Takutnya ada plagiator yg baca blog ini :D
ReplyDeletesetuju dah !! anto plagiat. . .
ReplyDeletenice post. from , http://gapekamania.blogspot.com/
Apapun itu, plagiarisme tidak bisa dimaafkan ^_^
ReplyDelete@Ramy : oke makasih masukannya... Berarti isi postingan ini kurang bisa mengena ke pembaca apa maksudnya... nanti Gue revisi deh... Thx... :)
ReplyDeletemenarik sob ... saya sendiri sempet geram karena beberapa karya saya dicopas blog pencopas. sebagian pembaca pun nganggep saya ngomel2 gaje. tapi saya g pernah malu menulis curhatan yang dianggap ngomel2 itu. hehe.. saya percaya bahwa suara blogger itu adalah suara sebagian orang. jadi kenapa harus tidak bersuara. artikel yang keren. salam kenal ^_^
ReplyDelete@Basith : Betul... Plagiarisme emang harus diperangin, tapi jangan lupa juga kitanya udah membentengi daari hal2 itu belom? :)
ReplyDelete@Samandayu : Akhirnya ada yang ngerti maksud dari apa yang pengen Gue sampein sebenernya... Salam kenal juga Sob... Thanks ya udah mampir... :D
@Glen : sip :))
ReplyDeleteKalo ada orang yang jadikan blog orang jadi inspirasi dia gimana, tu? :)
ReplyDelete@Muhammad Ali : Tentu aja gak apa-apa... Inspirasi sama plagiat kan beda... :)
ReplyDeletebaca ini deh : Terinspirasi sama Plagiarisme itu Beda, Kawan!
Wah, kalo plagiat itu memang diharamkan, lebih baik baca-baca, trus nulis sendiri, pasti hasilnya bakal beda, meskipun tujuannya sama.
ReplyDeleteCopy Paste ; BACOK
hehe
@Cucu : Ahahahahaha... dengan bahasa sendiri yah? Lucu juga... :D *plagiarisme semu* hehehe... Thanks ya udah mampir... :D
ReplyDeleteDulu, saya jg demen copas2 tanpa izin -_-"
ReplyDeletetapi untungnya sekarang udah tobat :)
Mari nge-blog secara baik, benar, dan sehat (o^_^o)/
@Nur : Wah baguslah kalo udah tobat... :D Sejelek-jeleknya karya sendiri, jauh lebih baik daripada mencuri karya orang lain... :D
ReplyDeleteseengak-enggaknya kalo copas itu di kasih link sumbernya -____-
ReplyDelete@Andaka : Ane setuju Gan! :)
ReplyDeleteMau komen ah... Hehe,,,
ReplyDeleteIt's just my opinion, ya. Jadi kalau gak sepakat, ya maaf. Namanya juga manusia, beda otak, beda pemikiran. So?
Ane setuju dgn apa yg udah Glen katakan, "semua tergantung pada niat awal kita buat blog? sekedar share, narsis, caper, atau?"
Tapi, kalau emang dari kecil/sekolah udah biasa nyontek, ya wajar aja kalau udah gede sering plagiat. Untuk ngerjain tugas kuliah aja, seberapa sering kita copas dari blog/artikel orang tanpa minta izin? Silakan tanya diri sendiri deh. Hehe,,,
Perangi plagiatnya, jangan orangnya. Hoho...
waktu gua masi awam-awamnya pernah tuh gua kesangkut kasus plagiat, hehehe #balajar lagi deh, biar ga kena lagi. hehe
ReplyDelete@Qhaisar : Wah betul banget tuh kasus nyatanya... Banyak juga loh yg ga sadar kalo sebetulnya mereka itu udah ngelaakuin yg namanya plagiarism...
ReplyDelete@Mukminin : Wah, ente pernah jadi plagiator apa pernah di plagiat? :D
kalo copas artikel bisa dibilang plagiator ngga?
ReplyDeleteiya setuju ni ama pertanyaan yg d atas barusan... ini kan info... boleh gak di copas??? biar info ini ke sebar juga...
ReplyDelete@yg namanya aneh, @Rizky : Gpp asalkan dikasih link sumber yang aktif... bukan sekedar tempel tapi ga bisa di klik..
ReplyDeletewih reviewnya panjang.:0
ReplyDeletekunjungan pertama. salamkenal ya?
saya follow dulu blognya :).
di tunggu follow baliknya :)
@Asep : Review apaan yang panjang mas brow? :D Btw, makasih ya udah mampir. Nanti Gue follow balik... :)
ReplyDeletesebentar gue mau lurusin dulu hal2 yang salah.. pertama konten blog yang walau hanya isinya curhat menye2, just for fun, menurut gue itu tetep sastra. dan sepengetahuan gue, ada kok kasus di ranah dunia maya yang diproses secara hukum... salah satunya itu prita yang gak berhubungan sama konten.
ReplyDeletekedua, sebetulnya kalo mau gak dicopas, setidaknya kurangi deh naroh cerpen/puisi/tulisan2 informatif lainnya, salah satunya artikel yang ini. sepengalamannya gue, itu tuh yang paling sering dicopas. lebih amannya yah mending nulis curhat menye2 ato kayak jurnalnya raditya dika.
ReplyDeleteoh yah balik lagi ke soal yang uu haki itu.. sebetulnya kalo kita jeli+punya basic kuat, para pelaku plagiator bisa dijerat UU haki. tapi itu dia. balik lagi ke kitanya. kita gak bakal malu tuh kalo kita mengadukannya ke ranah hukum, apalagi blog kita personal?
artikel yang menarik, tapi saya setuju dengan 1mmanuel, tulisan dalam blog dalam bentuk apapun juga sebenernya rentan sekali masuk ke dalam kategori hak cipta jika kita melihat ke contoh keterangan di halaman dmca google blogspot.
ReplyDelete“My published book, “Touch Not This Cat”, is infringed by the text excerpted on the site, beginning with the text ‘I came home to find my cat sitting on the kitchen counter.’”
Memang disitu contohnya untuk sebuah buku, tapi yang jelas kawan saya pernah mengirimkan surat cintanya melalui google (dmca report, bagi yang belum tau :D) kepada sebuah blog plagiat yang mengcopas blog "fun" miliknya, dan berhasil. Report dmca pertama tidak digubris 2x24jam, kirim lagi report yang kedua. Nggak sampe sebulan blog pengcopasnya kena banned google.
Saran saya sih biar benar2 aman, usahakan jangan ada satu paragrafpun yang sama persis, dan credits itu wajib baik untuk teks maupun konten tercopyright seperti foto (pernah kawan blogger senior dari luar negri saya kena masalah pelik sama provider photostock), dan usahakan credits berupa live link.
Salam
افضل شركة تسليك مجاري بالاحساء a7z5x7HIVd
ReplyDelete