CREATIVE SOCIETY

Thursday, May 16, 2013

WASPADA KONSPIRASI INFOTAINMENT


Mungkin seratus dua puluh lima tahun yang lalu, tepatnya waktu John Logie Baird and Charles Francis Jenkins dinyatakan sebagai duo penemu televisi, udah bisa memperkirakan kalo benda berbentuk kotak kecil yang bisa nampilin gambar itu bisa jadi benda yang sangat berpengaruh dalam perkembangan peradaban hidup manusia jaman modern.

Apa coba yang gak bisa kita temuin di televisi? Mulai dari iklan produk inovatif bidang manapun, siraman rohani untuk semua agama, film-film dokumenter yang bisa nambah pengetahuan, sampe ke informasi sehari-hari seputar kejadian aktual yang terjadi di seluruh dunia. Baik yang penting banget, sampe yang nggak penting banget. Baik yang sifatnya menambah wawasan, maupun sekedar hiburan keluarga. Baik yang biasa aja maupun yang lebay.

Ya, semua jenis acara bisa kita temuin di televisi. Bahkan, di masa kini televisi bisa juga dipolitisasi. Maksudnya penyiaran informasi yang nggak lagi objektif sesuai kenyataan yang ada, biasanya malah memberatkan satu pihak tertentu dan sekalian juga merendahkan pihak lainnya yang merupakan saingan dari pihak pertama. Udah tentu kenapa bisa begitu alasannya banyak. Mulai dari meraup untuk sebesar-besarnya hingga masalah pencitraan.

Mungkin kalo kalian udah pernah baca artikel gue yang berjudul BE WISE IN WATCHING TV bakalan ngerti isi artikel ini mau dibawa ke mana. Apa? Belom baca? Buruan klik dulu deh link di atas biar gaul sebelum lanjut baca yang ini. Artikel ini bisa dibilang kelanjutan yang lebih spesifik. Kebetulan juga sekarang momennya lagi pas buat ngebahas soal beginian. Semakin lama kan makin aneh aja nih dunia pertelevisian di Indonesia.

Khusus buat artikel kali ini, gue mau ngebahas satu acara yang paling diminatin sama penonton televisi di Indonesia setelah sinetron, yaitu tayangan infotainment. Infotainment itu apa sih? Buat yang belum tau, infotainment itu bisa dipecah jadi dua kata, yaitu Information dan Entertainment. Intinya sih, tayangan berita yang menampilkan informasi seputar dunia entertainment. Siapa targetnya? Udah pasti selebritis dalam industri hiburan. Misalnya pemain sinetron, penyanyi, anak band, pelawak, presenter dan bahkan bintang iklan.

Biasanya gaya penyampaian acara infotainment itu berbeda dengan acara-acara berita pada umumnya. Kalo berita sehari-hari biasanya dikemas dengan lebih resmi dan serius, beda lagi dengan infotainment yang host-host acaranya selalu lebih santai dan banyak becandanya. Berita yang disampaikan juga hampir bisa dibilang nggak ada penting-pentingnya. Cuma seputar memanas-manaskan info yang belum tentu benar and ngekepoin kehidupan pribadi para selebritis. Herannya kebanyakan ibu-ibu dan remaja young adult, terutama cewek suka sama tayangan gini. Apakah emang pada dasarnya banyak orang yang kepo di dunia ini?

Logo-logo acara infotainment di stasiun TV swasta lokal Indonesia

Pernah gue iseng ngeliat tayangan infotainment yang isinya konyol. Di mana ada seorang artis yang diliput baru aja melahirkan anaknya. Awalnya sih okelah ya, dia nyeritain pengalaman setelah melahirkan, dan bagaimana cara dia ngerawat anaknya. Eh, ujung-ujungnya si artis yang diliput ini jadi ngiklan produk perawatan khusus buat ibu-ibu yang baru melahirkan. Dari contoh sederhana ini aja kita bisa tau betapa sebuah liputan bisa dibuat-buat secara sengaja dengan tujuan iklan. Jadinya, isi dari info yang disampaikan nggak murni lagi berupa berita, melainkan jadi ajang iklan terselubung. Tujuannya tentu aja buat mempengaruhi penonton, apalagi yang namanya cewek yang punya mindset suka belanja, biasanya lebih percaya sama apa yang mereka liat. Wah, si artis pake produk itu jadi langsing, jadi cantik, dan sebagainya, so mereka ikutan beli. Padahal yang namanya artis udah tentu banyak banget perawatan lainnya selain sekedar produk yang lagi dia iklankan itu.

Gue pernah dateng di suatu seminar dengan seorang reporter dari salah satu TV Swasta di Indonesia sebagai narasumbernya. Beliau menceritakan dunia kerja yang beliau jalanin. Ternyata, emang udah bukan rahasia kalo yang namanya berita itu banyak yang nggak objektif. Beliau menceritakan bagaimana para wartawan disebarin ke daerah-daerah buat nyari berita, dan waktu beritanya dapet, sebelum ditampilin ke layar kaca harus melewati proses "pengeditan" terlebih dahulu, yang mana kalo ada berita nggak menarik, nggak bakalan diberitakan, atau kalau isinya masih kurang, suka dilebih-lebihkan dengan terkadang ada unsur politis yang ikut dimasukkan ke dalamnya. Alasannya apa? Karena bayaran mahal dari suatu pihak yang ingin mengambil untung dari liputan tersebut dan tujuan mengejar rating tinggi. Berita yang biasa aja nggak bakalan laku, maka dilakukanlah proses pengeditan, dibikin lebay biar perhatian publik lebih terjaring lagi.

Kalo berita sehari-hari yang nggak melibatkan selebritis aja bisa diedit sesuai kebutuhan, nah kenapa tidak dengan infotainment? Isinya artis semua, pada jago akting. Gue ambil kasus yang hebohnya berkepanjangan kayak Adi Bing Slamet versus Eyang Subur. Dalam sehari entah ada berapa infotainment yang meliput berita yang sama, berulang-ulang, dan lebay.

Makin nggak wajar ketika permasalahan yang dibahas ini semakin berlarut-larut dan bercabang-cabang hingga kena ke berbagai macam pihak baru yang anehnya mereka seperti cari perhatian di depan kamera. Muncullah tokoh baru kayak Arya Wiguna, penyanyi dangdut yang dulunya ngaku-ngaku pernah hampir diperistri sama Eyang Subur, Unang, pengacara mereka, bahkan istri-istri Eyang Subur yang jumlahnya nggak kira-kira itu. Semuanya muncul ke media satu per satu. Tujuannya apa? Pencitraan.

Harusnya sih penonton bersikap cerdas dan bijak sama apa yang mereka tonton. Sejak kemunculan kasus tersebut pertama kalinya aja udah nggak wajar. Ditambah lagi setelah semuanya berlarut-larut makin banyak aja hal-hal absurd yang seakan-akan setiap adegannya udah diatur sedemikian rupa untuk mengangkat nama masing-masing personil yang muncul di layar kaca. Sangat nggak wajar ketika mendadak Arya Wiguna malah promo RBT lagunya yang berjudul Demi Tuhan. Nggak wajar dibarengin dengan Adi Bing Slamet yang mau jadi anggota legislatif. Makin nggak wajar pas Eyang Subur diberitakan mau jadi calon presiden 2014. Terus ditambah lagi sama istri-istri Eyang Subur yang mendadak muncul juga kepermukaan numpang cari nama.

Nah, buat ibu-ibu dan remaja cewek muda yang hobinya ngabisin waktu di depan TV nonton infotainment. Gue cuma mau bilang kalo acara-acara tersebut nggak ada nilai-nilai positifnya. Nggak ada bedanya dengan nonton sinetron. Malah menurut gue masih mendingan nonton sinetron deh karena alur ceritanya jelas dan memang digarap khusus dengan tujuan buat menghibur penontonnya, walau sebenernya sinetron juga makin lama makin absurd sih, kayak Tukang Bubur Naik Haji, yang entah udah berapa episode gak kelar-kelar, padahal ceritanya juga begitu-begitu doang.

Yang penting sadarilah kalo yang namanya berita infotainment yang heboh itu, udah ada campur tangan banyak pihak. Intinya mereka semua saling berkonspirasi demi mengejar suatu tujuan. Bagi si penayang liputan mendapatkan untung besar dari rating, bagi yang tampil dalam liputan mendapatkan simpati penonton, hingga akhirnya menjadi tenar dan artis dadakan. Pada akhirnya penonton cuma dianggap sebagai mainan. Ya, penonton dipermainkan. Setelah tujuannya berhasil, mereka menertawakan.

Udah saatnya sebagai orang tua memilih tayangan yang kaya akan manfaat. Nggak ada di TV? Ya udah beli DVD dokumenter yang isinya pengetahuan. Lumayan loh. Kalo orang tuanya aja suka sama hal-hal berbau pendidikan, nanti anak-anaknya juga pasti bakalan meniru kok. Lebih positif kan? Hehehehe. Yuk ah, sekali lagi gue mau sampein biar kita semua selalu bijak dalam memilih tontonan di televisi. Salah-salah dampaknya membahayakan buat generasi penerus. Televisi jendela dunia, ya benar, tapi saat ini televisi lagi mengalami krisis. Jendela dunia bisa berubah jadi jendela kesesatan kalo nggak bisa berpikir kritis saat menontonnya.

Sampe sini dulu update singkat dari gue. Nanti kita sambung lagi di postingan selanjutnya. Salam Creative and keep on blogging! Ciao!

31 comments:

  1. bener gan, berita udah banyak yang gak objektif. tapi masalahnya, penonton tidak sadar kalo berita itu sudah tidak objektif.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penonton terlalu terlena dengan hingar bingar yang ditampilkan di TV, sampe lupa memikirkan hal2 kecil yang sebetulnya penting. Di sinilah gue bilang, penonton itu harus cerdas, jangan cuma terima aja apa yang ditunjukkan.

      Delete
  2. Replies
    1. Wah niru gayanya arya wiguna wkwkwkwkkkk :D

      Delete
    2. Tuh kan, style Arya Wiguna sampe terkenal begini... hahahaha... padahal siapa dia sebelum ada kasus "sandiwara" seperti itu...? :D

      Delete
  3. aku gak pnh nonton tv, soalnya tv itu udah kyk sampah aja isinya.
    males bgt buang2 waktu buat nonton hal geje.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi jangan nutup diri juga. Nonton TV itu penting, seenggaknya kita ga ketinggalan info yang lagi update sekarang ini. Kan lumayan bisa nemu bahan buat postingan juga. Tapi sekali lagi, nontonnya mesti bijak. Jangan asal terima apa yang kita denger and liat. :D

      Delete
    2. @Iskael May: jelas aja ente gak pernah nonton Tv, kan ente gak punya tv di rumah ..hehehe..ekstrim banget dach gaya berpikir loe Iskael *peace*

      Delete
  4. wahaha setuju, emang kadang nggak sadar gara2 ikutan sugesti dari tv tersebut -.-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, makanya kalo nonton jangan sambil bengong broh... bisa kesambet sugesti... :))

      Delete
  5. setuju gan, emang makin banyak yang gak bener di tv.... mending nonton doraemon :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha... iya Doraemon kagak ada matinye ye... XD

      Delete
  6. Agama aja udah ngelarang kok bang buat menggunjing, apalagi nonton begituan. Gosip yang ngga ada habisnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo menggunjing kan di belakang orangnya brow... kalo infotainment kan biasanya langsung klarifikasi ke orangnya... ya walau memang sih ujungnya bakal memancing spekulasi dan berbagai macem prasangka yg belum tentu bener... :D

      Delete
  7. Metode mengunjing sekarang dijadikan ladang mencari uang di media TV ya Sob, dan itu rting malah baus lagi. He,,,,x9. Salam kenal.

    Salam wisata

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya brow... Miris banget yah, kayaknya media yang seharusnya begitu penting jadi kebanyakan racunnya ketimbang madunya... :'(

      Delete
  8. untung ajaaa kagak doyan nonton tipi. biasa nonton radio, jadi kagak demen liat acara tipi :D
    paling banter nonton tipi acara musik doang atau acara masak masak tiap weekend

    ReplyDelete
    Replies
    1. Samaaaa... wahahahaha... lebih sering mantengin acara musik daripada yang lain. Tapi gue nonton berita juga sih, biar walau dicekokin sama yang ga objektif, seenggaknya gue tetep bisa up to date sama isu2 di negara ini and juga di luar negeri... :D

      Delete
  9. saama dengan El, aku gak punya tipi nih...jadi tahu berita just from inet

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap berita di Internet masih bisa dibilang bersih sih, soalnya real time si wartawan sendiri yang nulis, gak pake masuk bagian produksi dulu sebelum ditampilin. Tapi, kadang karena gak diawasi ada banyak juga berita yang bahasanya aneh, seolah nggak paham sama materi yang lagi dibawain. Hahahha..

      Delete
  10. yang ini "Eh, ujung-ujungnya si artis yang diliput ini jadi ngiklan produk perawatan khusus buat ibu-ibu yang baru melahirkan." kayaknya sering deh. pas ngeliat infotainment, acara hampir bubar, pasti ada kayak gitu. ahahaha

    keluar dari konteks bang. ada juga tv swasta yang sengaja ngiklanin celdam di slot iklannya. udah gitu ngga semenit dua menit, bisa nyampe lima menit. apa segitu ngga lakunya produk itu sampe ngiklan di tv :))

    nice post bang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Woakakaka... mungkin bukan masalah laku nggak laku produknya. Tapi yg jual produk kuat modal buat ngiklan. Kan TV Swasta sekarang mengedepankan keuntungan ketimbang konten. Selama menurut mereka masih bisa ditolerir sama KPI ya ga masalah. Makanya kacau.. :(

      Delete
  11. "jika sebuah negara tidak dipimpin oleh sesuatu diluar media yang cukup kuat, maka dengan sendirinya medialah pemimpin negara tersebut" (redaksi gk pas2 amat) - Sastrawan Prancis (seingat ane sih pernah dikutip bang karni disalah satu episodenya ILC)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, pendapat gue dari dulu juga sama kok. Sekarang ini politikus pada punya hubungan sama media. Makanya media jadi ga objektif, lebih mengedepankan kepentingan golongan. Ngebagus2in hal yg berkaitan dengan partai si mpunya media, dan mulai deh ngejatuhin berita2 yang kadang terkesan cuma mau ngejatuhin image si pesaing.

      Delete
  12. wow banget glen, soal tv itu sayangnya ngambil rating kelas bawah, makanya knp di tv ga ada iklan bmw gak laku, yg ada jg iklan operator murah gt ;p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahha... yg penting pada bersedia bayar mahal Bell... BMW sih emang jarang ngiklan, kan soalnya merknya udah keren banget, ga perlu ngiklan juga udah dicari sama banyak orang yg nggemarin... :D

      Delete
  13. sekarang di tv banyak ya iklan doang, filmnuya 10 menit iklanya 15 menit *miris :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya begitulah brow cara stasiun TV nasional nyari duit... :)

      Delete
  14. Harus pinter buat memilih acara yang ditonton penting banget ya. Bermanfaat tulisannya :)

    ReplyDelete

Thanks ya, udah berkunjung ke Creative Talks Blog ini. Silakan meninggalkan komentar dengan tidak mencantumkan hal-hal yang berkaitan dengan SARA, flamming dan juga memojokkan pihak tertentu. Diharapkan juga untuk tidak meninggalkan link aktif pada badan komentar atau komentar tersebut akan langsung dihapus oleh admin.

Happy blogwalking and have a nice day!
Creative Talks Blog Creator - Glen Tripollo