CREATIVE SOCIETY

Saturday, April 21, 2012

R.A KARTINI PAHLAWAN PENUH KONTROVERSI

Guys, kita semua tau kalo setiap tanggal 21 April, kita selalu memperingati hari Kartini. Baik di sekolah-sekolah, di desa-desa, dan di lingkungan masyarakat lainnya. Kita juga bakalan sering nemuin rangkaian acara-acara unik yang biasanya dikhususkan buat para cewek di hari tersebut. Sebut aja lomba kebaya, lomba puisi, lomba foto, lomba Kartini masa kini dan sebagainya yang semuanya full of cewek.

Nah, makanya berhubung hari ini hari Kartini, Gue mau ngucapin selamat hari Kartini buat para wanita Indonesia, khususnya yang udah pada berhasil menunjukkan ketangguhannya dan membuktikan ke semua orang kalo cewek juga bisa melakukan sesuatu.

Tapi pada tau gak, kalo sebetulnya kisah perjuangan dari Kartini ini menuai banyak kontroversi di jaman dahulu kala, sebelum akhirnya diterima oleh hampir seluruh orang di Indonesia ini? Wah, emang apa-apa aja dari Kartini yang menjadi kontroversi? Sebelum bahas kontroversinya, Gue pengen cerita dulu pendapat dari sudut pandang Gue setelah ngebaca detail kisah perjuangan Kartini di masa lalu, serta perkembangan pemahaman arti emansipasi wanita ala Kartini yang kebanyakan disalahartikan sama wanita-wanita di era globalisasi ini.

Jadi begini, sebenernya latar belakang perjuangan R.A Kartini adalah di Jepara, Jawa Tengah di waktu Indonesia lagi dijajah sama Belanda. Pada waktu itu cuman wanita dari kalangan tertentu aja yang dibolehin mengenyam pendidikan formal di sekolah-sekolah. Kebetulan R.A Kartini memiliki ayah seorang pejabat bernama R.M Sosroningrat. Makanya, R.A Kartini beruntung bisa sekolah di ELS (Europese Lagere School) sampe kira-kira umurnya 12 tahun.

Pada waktu itu, kebudayaan Jawa memiliki hukum adat yang kuat, di mana seorang wanita kalo udah memasuki tahap remaja, udah harus diam di rumah atau bahasa Inggrisnya dipingit. Jadi, Kartini yang waktu itu berniat pengen lanjutin sekolah sampe jadi sarjana terpaksa berhenti dan diam di rumah sesuai aturan adat di Jawa. 

Nah, di bagian ini selanjutnya Gue paling demen nih. Bagian di mana Kartini bertindak layaknya seorang Blogger di masa kini. beliau aktif menulis surat-surat yang isinya mengungkapkan kegalauan hatinya dalam menjalani kewajibannya untuk diam di rumah dan tidak bisa melanjutkan sekolah. Singkat cerita, akhirnya Kartini udah aktif banget meng-update surat-surat galaunya tersebut hingga tersampaikan pada sahabat-sahabat penanya yang berasal dari Eropa, dan mendapatkan dukungan penuh akan apa yang sedang dirasakan oleh Kartini pada saat itu. Kartini waktu itu rajin baca koran yang isinya tentang bagaimana kehidupan para wanita di Eropa yang menurutnya jauh lebih dihargai daripada di Jawa.

Pemikiran-pemikiran Kartini sebetulnya sudah cukup kontroversial menurut Gue, beliau nggak cuman menyampaikan keluh kesahnya akan nasib yang menimpanya, tapi juga menyesali keadaan di Jawa yang menurutnya sangat tidak berperikewanitaan. Kartini juga menyampaikan keluhannya tentang agamanya sendiri. Misalnya saja kenapa kau cowok diperbolehkan untuk berpoligami di dalam agamanya. 

Kebetulan Gue liat ini dari sudut pandang positif, sehingga Gue bisa ambil beberapa kesimpulan dari apa-apa aja yang dikeluhkan sama Kartini:
  1. Pada waktu itu, kebudayaan Jawa memang tidak menyetarakan derajat wanita dan pria.
  2. Wanita Jawa yang sudah memasuki masa remaja tidak bisa bersekolah lagi.
  3. Wanita Jawa pada waktu itu harus bersedia dinikahkan oleh siapapun atas perintah orang tuanya.
  4. Wanita Jawa pada waktu itu juga harus mau dan rela untuk dimadu.
Keadaan-keadaan di atas memang membuat kaum wanita terlihat rendah. Tidak ada yang memikirkan perasaan para wanita karena mereka semua harus patuh dan tunduk pada aturan adat di masa itu. Oke, berhubung takut kepanjangan, kisah lengkapnya bisa juga dibaca di sini.

Intinya, Gue narik kesimpulan bahwa harapan Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita di masa itu adalah sebagai berikut :
  1. Menghilangkan aturan adat Jawa yang memberatkan perasaan kaum wanita di masa itu.
  2. Memberikan kebebasan bagi wanita-wanita Jawa di masa itu untuk dapat mengenyam pendidikan setinggi-tingginya.
  3. Menghilangkan perlakuan semena-mena para pria Jawa di masa itu, agar tidak lagi merendahkan kaum wanita.
Intinya sih emansipasi wanita yang dicanangkan Kartini lebih bertujuan kepada para wanita yang hidup di Jawa pada saat itu, di mana mereka semua merasakan penderitaan yang sama. Tapi, karena kemudian diasumsikan bahwa kehidupan para wanita di setiap daerah di Indonesia sama pada waktu itu, makanya ditafsirkan oleh beberapa penulis, saksi, dan pemerintah, bahwa emansipasi wanita ini ditujukan juga bagi seluruh wanita di negara ini.

Oh ya, di dalam kisah Kartini, pada akhirnya cita-cita mulia beliau untuk menjadi seorang guru gagal, dan beliau memilih untuk menikah, yang kemudian dengan bantuan suaminya membangun sebuah sekolah. Hal ini membuktikan juga bahwa Kartini masih menjunjung tinggi kodratnya sebagai seorang wanita. Maka kesimpulan dari emansipasi wanita ala Kartini adalah "Menjunjung tinggi harkat martabat kaum wanita, dan juga kebebasan untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya layaknya kaum pria di masa itu, tanpa melupakan kodratnya sebagai seorang wanita."

Tapi, sayangnya, beberapa wanita di era modern seringkali menyalahartikan maksud tersebut. Apabila seorang wanita udah ngomong, "Nih, Gue udah jadi Direktur. Gue berhasil buktiin kalo Gue juga bisa ngerjain kerjaan cowok. (dan kemudian meremehkan para cowok)" That statement is WRONG! Bukan itu maksud dari emansipasi wanita yang sebenarnya. Bukan cuman ngebuktiin bisa atau nggaknya ngerjain kerjaan cowok. Bukan! Tapi lebih kepada bagaimana seorang wanita mampu menunjukkan harkat dan martabatnya sehingga nggak lagi dipandang sebelah mata sama kaum pria. Dan menunjukkan harkat dan martabat ini nggak harus selalu dengan cara mengerjakan pekerjaan cowok. Banyak cara untuk nunjukkin kehebatan seorang wanita yang pada akhirnya dapat membuat para wanita ini dihargai oleh para cowok. Misalnya menunjukkan kecerdasannya, dedikasinya, dan lain sebagainya.

Oke, sekarang Gue lanjutin ke kontroversi. Ada di mana aja letak kontroversi dari Kartini? Ini dia :
  1. Kartini ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia, padahal nggak ada andil yang bener-bener jelas layaknya seorang pahlawan yang turun ke lapangan untuk berperang melawan penjajah. Berdasarkan kisah Kartini, kita tahu bahwa Kartini hanya bersurat-suratan dengan teman-teman penanya. Tentu tanpa adanya peranan dari teman-temannya ini yang selanjutnya berinisiatif mempublikasi isi surat-surat Kartini ke dalam sebuah buku, mustahil Emansipasi Wanita ini terwujud hingga saat ini. Beda halnya jika pada waktu itu Kartini open mic, dan berpidato pada orang banyak mengenai pemikiran-pemikiran hebatnya ini. Mungkin gelar pahlawan bisa lebih melekat erat pada namanya.
  2. Kartini waktu itu memperjuangkan wanita yang hidup di daerahnya, yaitu Jepara. Namun, kemudian diasumsikan sebagai perjuangan beliau dalam memperjuangkan wanita di Indonesia.
  3. Banyak pahlawan wanita yang jauh lebih berani, seperti Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, dan lain-lain yang ternyata tidak mendapatkan perlakuan khusus. Kartini mendapatkan hari besarnya sendiri dan ditetapkan khusus oleh pemerintah, sedangkan pahlawan wanita lainnya hanya diperingati setiap kali Hari Pahlawan.
  4. Surat-surat yang ditulis oleh Kartini juga banyak yang meyakini bahwa itu adalah hoax.
Oke, di luar dari kontroversi yang ada, Gue pribadi mengagumi sosok Kartini. Beliau adalah wanita cerdas. Pemikiran-pemikiran yang beliau tuangkan ke dalam surat-surat itu membuktikan kepada kita semua, bahwa bila kita memiliki keinginan yang kuat dalam memperjuangkan sesuatu, maka lewat tulisan pun akan bisa berhasil. Sama halnya seperti kita para Blogger. Bila kita sedang memperjuangkan sesuatu lewat postingan-postingan kita, dan kita mempertahankan diri untuk terus menjalaninya, kemungkinan besar akan berhasil juga.

Oke deh, begini aja dulu postingan Gue kali ini. Sekedar mengenang kisah pahlawan kita di masa lalu, sekaligus juga mengingatkan pada orang-orang masa kini tentang maksud perjuangan pahlawan kita di masa lalu. Karena salah pengertian akan membuat perjuangan mereka menjadi sia-sia saja. Semoga dengan ini, Indonesia akan terus mencetak Kartini-Kartini baru yang berkualitas, bermartabat, dan juga berdedikasi dalam menjalani kodratnya sebagai seorang wanita. Semangat para wanita! Sampe ketemu dipostingan Gue selanjutnya.

34 comments:

  1. Iya Glen...saya awalnya ga ngehh dengan pemahaman dan perilaku wanita yang mengagungkan emansipasi wanita...bahkan ada yang beranggapan wanita juga bisa menghidupi keluarga dan bisa mengatur keluarga...:(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitu pula dengan Gue... Kadang konteks emansipasi wanita ini jadi diartikan terlalu lebay... :D

      Delete
  2. kl mnrt sy sih yg namanya berjuag itu gak harus selalu di artikan dg turun langsung ke lapangan. Apapun yg kita lakukan besar-kecil selama itu kebaikan bisa di katakan pahlawan..

    Tp apapun itu sy juga berterimakasih thd kartini utk memperjuangkan emansipasinya yg mungkin pd saat itu beliau hy terpikir utk di lingkungannya saja tdk terpikir akan berdampak secara nasional. Cuma saja jaman sekarang byk perempuan yg suka menyalah artikan emansipasi.. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahaha... setidaknya yg namanya pahlawan ada sesuatu yg diperjuangkan... Tapi kalo kasus Kartini, beliau ngga memperjuangkan apapun secara gamblang, sekali lagi dijelaskan bahwa beliau cuman nulis surat2 yang isinya tentang kegalauannya. Tapi Gue juga setuju kok dengan emansipasi wanita dalam idealismenya Kartini. Bukan berdasarkan pemahaman wanita jaman sekarang.

      Delete
    2. Iya sih...

      Apa yang lu bilang ada benarnya juga. Apalagi memang Kartini kan hanya memperjuangkan wanita2 Jawa aja. Hehhee

      Btw ada joke terkait Kartini.

      Kalau saja Kartini hidup di era sekarang, mungkin dia udah aktif ngeblog atau ngetwit. Mungkin dia bakal sering2 bikin kultwit

      Oke abaikan saja. Hahaha

      Delete
    3. Ahahaha,... iya itu juga yang kebayang sama Gue... Jangan2 sekaligus orang pertama yang mempopulerkan "galau"... Ups...

      Delete
  3. segala sesuatu pasti ada dua sudut pandang yg akan mngakibatkan berkontroversial..
    seperti hukum gravitasi. jatuh pasti ke bawah. dan positif pasti ada negatifnya.. baik ada buruknya..
    nice share.. senang bisa membaca ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup... yup... Gue stuju... Semakin banyak sudut pandang yang dapat ditelaah dalam suatu objek, semakin kontroversial-lah objek tersebut... :D

      Thx ya udah mampir... :D

      Delete
  4. Keren Bang Glen...ah kayak ga tau aja kalo apa2 yang ada di dunia ini sudah di setting dengan pemikiran ala barat yang beberapa menjujung asas feminisme... biar apa? ya biar jauh dari aturan Islam lah :), makanya perjuangan wanita lain itu ga terlalu di blow up.. padahal mereka lebi heroik. Em ane juga pernah baca abis gelep terbitlah terang... kayanya ada satu surat yang bilang kalo dia juga terpaksa nikah ama suaminya... cmiiw.

    Sorry panjang bro

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ternyata bau-bau konspirasi udah ada sejak jaman dahulu kala... ckckck... :D
      Btw, thx ya udah mampir... :D

      Delete
  5. Gue sepenuhnya setuju dengan kontroversi itu. Kenapa kartini terlalu diagungkan sebagai ibu bagi Indonesia, padahal dia hanya bermukim di Jepara? Dan juga, kenapa Kartini itu sampai dirayain hari kelahirannya? Soekarno, Moh Hatta, atau pahlawan heroik lain perayaan ultahnya gak sampai dibikin hari serame hari Kartini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, hahahaha... Gue setuju sama emansipasi wanita ala pemikiran Kartini di masa itu. Tapi kalo diliat dari caranya dan ruang lingkupnya, Gue nggak setuju kalo mesti sampe sebegitu diagungkan sebagai pahlawan. Nggak adil aja rasanya sama pahlawan yang lainnya... :D

      Delete
  6. seorang yang besar, hidupnya akan selalu penuh dengan kontroversi, selalu ada pemikiran dan tindakan yang pro dan kontra terhadapnya, sebut saja nama nama besar seperti Nabi Muhammad, Nabi isa, Yesus, Budha, stalin, putin, dan banyak lagi nama. sebenanya, adanya kontroversi itu saja sudah menunjukkan kebesaran namanya dan pribadinya, terlepas dari baik buruknya dia di pandangan orang secara umum. dan kartini adalah salah satunya. dia memiliki nama besar dan kontroversional.

    kalau bicara tentang perjuangan, sebenarnya setiap orang itu berjuang, dengan apapun yang mereka bisa. yang memiliki jabatan berjuang mengadakan perubahan dengan jabatannya itu, yang memiliki pengaruh, berjuang dengan pengaruhnya itu untuk mengubah sesuatu atau mempertahankan sesuatu, pelajar berjuang dengan buku dan penanya, guru dengan ilmunya, dan pemilik blog ini berjuang dengan tulisannya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya saya juga setuju kalo dibilang semua orang pasti berjuang, tapi ngga semua bentuk perjuangan bisa dibilang kepahlawanan. Okelah minimal bisa dibilang sebagai pahlawan bagi diri sendiri... Soalnya kontroversi yg saya angkat di sini adalah pantas atau nggaknya sebetulnya Kartini dianggap sebagai pahlawan. Karena, menurut saya pribadi, apa yg beliau lakuin itu belum mencerminkan arti perjuangan dan kepahlawanan itu sendiri...

      Bisa dibilang Kartini itu sebagai pengguna Twitter yg suka bikin tweet galau di masa kini. Lantas apakah para pengguna Twitter dengan galaunya bisa dibilang pahlawan? Kan ngga... Makanya muncul kontroversi... :D

      Delete
  7. sip! aku ada pesen juga ...
    Keep our earth green friend!
    lalala yeyeye !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ada duta Go Green mampir neh.... :D *eh*

      Delete
  8. Waw...
    Haha..

    Ulasan kak glen bgs yak.

    Mnurut saya sih, kartini itu pejuang wanita, bukan pahlawan wanita.
    That's not same at all.

    Tp yg salah ya bukan kartini sih kalo dia dibilang pahlawan.
    Yah publik yg ngasih gelar n citra itu ke dia la yg salah.

    Tapi ya namanya jg pendapat.
    Sah2 aja orang mw blg apa.

    Nice share kak glen. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap, Gue juga nggak nyalahin Kartini kok... Kan yang menetapkan hari juga bukan beliau, tapi pemerintah... :D

      Disebut pejuang juga Gue masih ngga setuju... Dikau nge-tweet deh yg galau2 tiap hari buat dibaca temen dikau... Lantas apakah dikau bisa dikatakan pejuang? Itulah analogi Kartini pada waktu itu. Lewat surat galaunya yg secara kebetulan dibukuin sama sahabat penanya, makanya jadi suatu hal yg penuh kontroversi... :D

      Btw, thanks ya udah mampir... :)

      Delete
    2. Ya itu dy mksud ayu kak.
      Pemerintah yg salah.. haha

      Ur wlcome.. :D

      Delete
    3. Ho oh, gue setuju deh kalo gitu... :))

      Delete
  9. dalam penciptaan manusia dibumi, Allah tidak menciptakan wanita untuk berdiri sendiri. lihat saja penciptaan Nabi Adam manusia pertama, Allah menciptakan hawa dari tulang rusuk nabi Adam..semata2 untuk mendampingi nabi Adam..dan lihat saja dampak dari emansipasi wanita sekarang, mereka( wanita ) merasa dirinya mampu melebihi kaum pria...dan bertindak seolah2 mereka yg memilih pria mana yg menjadi pendamping hidiupnya. banyak juga jaman sekarang terjadi perceraian yg notabene dibenci Allah dan anak2 menjadi tumbal keegoisan wanita..dan banyaknya penggangguran di negeri ini yg jelas2 wanita mengambil alih peran pria didalam berbagai bidang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pendapat yg berani dan menarik. Dan memang dalam beberapa sudut pandang ada benernya juga. :)
      Sayang kenapa dikau nulisnya pake anonim sih? :D

      Delete
  10. Sejarahnya Ummi Kartini ini gak cuma satu versi.. Di tanggal yang sama, masa ada yang bilang dia melakukan A, ada yang bilang dia melakukan B.. :/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukannya yang asli itu dari buku hariannya sendiri brow? Habis Gelap Terbitlah Terang... nag postingan gue ini juga gue simpulin dari tulisan beliau di buku hariannya itu... :D

      Tapi klo memang ada banyak versi.. wah curiga jangan2 ini konspirasi negeri barat yang mau ngancurin orang Indonesia, trutama wanita... *baubaukonspirasiituseru*

      Delete
  11. Artikel yg menarik brow, gw jg jd melek setelah baca tulisan ente brow...Yg gw ngeri ada rencana apa dari pemerintah dibalik pemberian gelar Kartini ini, dan sebenarnya ini terjadi di era pemerintahan siapa..Ini harus diusut spy sejarah di Indonesia ngga simpang siur dan rakyat jg ga dibodoh2in terus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih brow udah baca and ninggalin jejak... :D
      Hahaha, yah itu yg masih jadi misteri, ada yang bilang buku harian Kartini isinya hoax, nah klo memang begitu adanya, jangan2 emang rencana orang barat nih ngancurin pola pikir cewek2 modern Indonesia... hmmm...

      Delete
  12. kalau saya sich..g lihat masalah kontroversinya...setiap orang punya ide dan cara sendiri untuk menciptakan sesuatu...dan setiap ide pasti ada yang pro dan ada yang kontra..karena itu sifat manusia..,kalau R.A Kartini tidak pantas di juluki pahlawan .. Trus di juluki apa??pahlawan bukan berati harus perang .. Guru itu juga pahlawan , dokter juga pahlawan , siapapun bisa jadi pahlawan asal bisa memberikan perubahan hidup seseorang ataupun negara...kalau tidak ada kartini mungkin aja Facebook g seramai ini..g ada Goyang Ithik atau goyang ngebor..jadi kesimpulannya .. "walaupun tindakannya kecil tapi mampu memberi perubahan dunia itulah pahlawan yang perlu kita banggakan"..buat apa nulis di blog tapi g bisa memberikan perubahan ke arah yang positif..walaupun nulis sampai beribu-ribu tulisan yo tetep aja g ada perubahan sama sekali...thanks just comment

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, pandangan dari berbagai sudut pandang memang sah-sah aja kok. Dan gue ngga berusaha mendebat komentar kamu... :)

      Intinya, sih gelar pahlawan yang melekat pada Kartini menurut gue terlalu berlebihan bila dibandingin pahlawan wanita lainnya yang jelas2 sampe ngorbanin nyawa demi kemerdekaan bangsa kita. Ngga yg cuma sekedar nulis diari curhatan doang... :)

      Delete
  13. Cut nyak dien, malahayati, christina martatiahahu, semua wanita hebat pahlawan indonesia, tapi inget jaman dahulu belum ada konsep indonesia, sehingga semua resistensi mereka atas belanda pun sangat bersifat lokal/kedaerahan...but its okay.... karena sekali lagi pada jaman mereka belum ada konsep indonesia. Baru di tahun 1920 (atau 1928 ya?) ada konggres pemuda, sehingga baru mulai muncul cikal bakal konsep ke-indonesia-an. Jadi tidak fair dengan bilang bahwa kartini cuman membela wanita jawa, hanya di jepara dll..inget konsep indonesia belum ada. Tidak fair juga utk mengecilkan jasa kartini hanya karena beliau tidak berjuang secara fisik (angkat senjata), kalo ini parameternya, maka soekarno, hatta, kh ahmad dahlan dll. tidak layak dianggap pahlawan,,mereka ga pernah angkat senjata kan?..kartini berjuang melalui pemikiran, di umur yang sangat-sangat muda dan di era kolonial ditambah lagi hidup dalam budaya yang pria-sentris, pemikiran beliau sangat luar biasa. anggapan bahwa beliau adalah "buatan" belanda sangatlah merendahkan..pake logika, apa untungnya belanda menjadikan kartini sbg simbol? bukankah menguntungkan bagi belanda kalo semua wanita tetap dalam budaya yang pria-sentirs? tidak sekolah tinggi, tinggal di rumah..semakin sedikit kaum terpelajar (pria maupun wanita) akan lebih mudah bagi belanda melanggengkan kolonialisme? jangan liat surat2kartini cuman sesempit sbg "surat-surat galau"...isinya pemikirannya sangat revolusioner...mungkin di jaman itu juga sudah ada banyak wanita yg berpikir revolusioner..tapi kartini "diuntungkan" karena dari kaum ningrat sehingga lebih punya akses terhadap pendiikan, networking dll, Emansipasi yang di salahartikan di jaman sekarang?..apakah itu menjadi "dosa bawaan" kartini? tidak fair laahhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. komentarnya jempol banget.
      sy malah bingung,,,, menulis pemikiran2 koq dibilang curhat galau.... justru aneh kalo ada org punya otak tp ga dipake bwt mikir.....


      Delete
    2. betul mas/mbak..kalau kartini mau dia bisa tetap dalam "zona nyaman" lho, ingat dia dr kaum ningrat sehingga tingkat ekonomi jelas di atas rata2 rakyat jaman itu..tapi dia tetap memilih "berontak" dengan pemikirannya dgn segala keterbatasannya karena adat yg ketat..luar biasa. Ada ungkapan, pena bisa lebih tajam dari pisau..ini terbukti dgn kartini, tulisan-tulisan beliau jauh menembus negeri sampai ke eropa....

      Delete
    3. Hohohoho... saya suka sama komentar ini... :)

      Delete
    4. Tidak fair juga bagi mereka yang berjuang sampai tertumpah darah mereka berperang di daerah, tidak mendapatkan hari peringatan khusus bagi diri mereka... :')

      Kartini berjuang di Jepara, tapi dianggap berjuang demi Indonesia...
      Cut Nyak Dien berjuang di Aceh, dianggap berjuang demi Indonesia? Ya, tapi ngga dianggap sehebat Kartini yang sampai dapat harinya sendiri... :'(

      Saya nggak nyalahin Kartini, saya nyalahin pemerintah yang menetapkan Hari Kartini, seolah-olah perjuangan Kartini jauuuuuh lebih gila dan hebat ketimbang pahlawan wanita lainnya.

      Dan kalo kita telaah lagi, sebetulnya yang namanya emansipasi wanita yang akhirnya disalahartikan pada jaman modern ini juga bukan merupakan dasar pemikiran atau harapan dari Kartini di masa itu. Kartini memang berjuang untuk penyetaraan perlakuan, tapi Kartini tetap tunduk pada kodratnya sebagai wanita. Sayangnya hal tersebut nggak tercermin pada gerakan emansipasi kaum feminis masa kini.

      Delete
    5. Ada hari cut nyak dien, ntar ada yg minta hari christina tiahahu, ..yg paling penting gmn penghargaan kepada mereka, bentuknya apa? macam2, tp yg paling kasat mata dan simple ya gelar pahlawan itu.

      Saya ga tau dr mana anda bisa bilang cut nyak dien dianggap kurang hebat (inferior) dibanding Kartini, karena ga ada hari cut nyak dien?. Tapi menurut saya Kartini memang lebih monumental dan pioneer (pelopor) dgn apa yg dilakukannya, emang gila pola pikirnya, bayangin bisa hidup enak, ngapain susah2 mikirin kesetaraan wanita, punya networking org belanda, mendingan dia ngobrol soal mode terkini di eropa, minta bapaknya liburan ke eropa, atau hal2 lain yg fun bagi seorang remaja, ini malah ngobrolin soal gender mainstreaming, inget lho topik gender di era itu adalah topik kelas berat, dan, again, dia menulisnya di umur yg sgt muda. Pikiran kritisnya bisa menginspirasi pergerakan wanita di jaman itu, sdh byk contoh betapa ide yg hebat bisa menginspirasi byk orang, contoh: cashflow quadrant nya Robert Kiyosaki (hehehe jadul yak?) bisa membuat jutaan org bergelora semangatnya utk berwirausaha. Seperti yg saya sebut di atas..pena bisa lebih tajam dari pisau.

      Sejarah membuktikan, perjuangan bangsa ini lebih signifikan bergeraknya setelah "dilengkapi" atau "ditambah" dgn perjuangan non fisik (pergerakan pemuda, diplomasi dan sejenisnya), perjuangan fisik dan non fisik saling melengkapi. Saya miris dgn anggapan bahwa perjuangan kartini kurang nyata/gamblang karena tidak bergelimang darah.

      Sekali lagi, ini bukan berarti mengecilkan para pejuang wanita yg lain (baik yg berjuang scr fisik atau non-fisik).

      Untuk paragraf terakhir anda, saya setuju aja.

      Delete